PENDIDIKAN SEBAGAI ALAT PENYADARAN
A.
Latar Belakang
Dewasa ini, kualitas pendidikan di Indonesia
semakin dipertanyakan. Hal ini terjadi akibat masih banyaknya oknum-oknum di
masyarakat yang tidak sedikit muncul dari golongan terpelajar.
Sistem pendidikan yang berlangsung selama ini
cenderung hanya fokus untuk memberikan ilmu saja. Alhasil, banyak dari ilmu
yang didapatkan justru disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung
jawab. Sementara itu, tidak sedikit juga yang menjalani proses pendidikan tanpa
memiliki kemauan untuk menggunakan ilmu yang didapatkan demi mencapai
kesejahteraan masyarakat.
Pendidikan seharusnya bukan hanya sekedar sebuah
proses transfer ilmu namun juga sebuah alat untuk mencapai sebuah kesadaran.
Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang pendidikan sebagai alat
penyadaran.
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah
dari makalah ini antara lain adalah:
·
Apa makna dari
pendidikan sebagai alat penyadaran?
·
Bagaimana bentuk
pendidikan sebagai alat penyadaran?
C.
Kerangka Teori
1. Pendidikan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan
adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang
dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan[1].
Sementara itu, menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan umumnya berarti daya
upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter),
pikiran (intelektual dan tubuh anak); dalam Taman Siswa tidak boleh dipisahkan
bagian-bagian itu agar supaya kita memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan,
kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik, selaras dengan dunianya[2].
2. Kesadaran
Kesadaran merupakan konsep yang membingungkan
dalam ilmu pengetahuan mengenai pikiran[3]. Salah
satu penyebabnya adalah karena pengertian kesadaran sangat bervariasi sehingga tidak
ada satu pengertian umum yang dapat diterima semua pihak[4].
Zeman (2001) menguraikan bahwa kata consciousness
berasal dari bahasa Latin conscio yang
dibentuk dari kata cum yang berarti with (dengan) dan scio yang berarti know (tahu).
Kata menyadari sesuatu (to be conscious
of something) dalam bahasa Latin pengertian aslinya adalah membagi
pengetahuan tentang sesuatu itu dengan orang lain atau diri sendiri. Kata conscious (sadar) dan consciousness (kesadaran) pertama kali
muncul dalam bahasa Inggris awal abad 17 (Lewis, 1960 seperti dikutip Zeman,
2001)[5].
Teori kesadaran menurut Wilber (1997) haruslah
mencakup “semua kuadran, semua-level”. Kesadaran bukan berlokasi dalam diri
organisme, namun kesadaran adalah sebuah peristiwa menyangkut empat kuadran.
Kesadaran terdistribusi kedalam semua kuadran, baik kuadran keperilakuan,
sosial, intensional dan kultural. Jika kita menghapus satu kuadran saja, maka
semuanya akan menghilang, sebab masing-masing kuadran secara intrinsik perlu
untuk keberadaan kuadran yang lain. Kesadaran tidak hanya dilekatkan pada otak
(fisik), tapi juga dilekatkan pada intensionalitas yang tidak dapat dijelaskan
oleh fisik. Kesadaran tidak hanya diterangkan oleh faktor individual, yaitu
intensionalitas dan otak namun juga membutuhkan makna kultural sebab tanpa
praktek serta makna kultural maka intensi tidak akan berkembang[6].
II.
PEMBAHASAN
A.
Makna Pendidikan
sebagai Alat Penyadaran
Pendidikan pada hakikatnya adalah sebuah
proses pendewasaan diri dalam bentuk pengembangan akhlak dan pemikiran melalu proses
belajar mengajar. Maka dari itu, pendidikan tidak hanya merupakan sebuah proses
transfer ilmu saja, tapi juga pelatihan demi mencapai aplikasi keilmuan secara
nyata dengan maksud memberikan manfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi
masyarakat. Hal itu menunjukan adanya perbedaan antara pendidikan dan
pengajaran.
Beberapa orang mungkin terjebak antara
definisi mendidik dengan mengajar. Padahal, terdapat perbedaan yang mendasar
antara keduanya. Mengajar merupakan kegiatan teknis keseharian seorang guru.
Semua persiapan guru untuk mengajar bersifat teknis. Hasilnya juga dapat diukur
dengan instrumen perubahan perilaku yang bersifat verbalistis. Tidak seluruh
pendidikan adalah pembelajaran, sebaliknya tidak semua pembelajaran adalah
pendidikan. Perbedaan antara mendidik dan mengajar sangat tipis, secara
sederhana dapat dikatakan mengajar yang baik adalah mendidik. Dengan kata lain
mendidik dapat menggunakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil
yang maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan.[7]
Hakikat dari pendidikan seharusnya tidak
sekedar bertujuan untuk memberikan ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih dari itu
memberikan kesadaran kepada peserta didik secara khusus dan masyarakat secara
umum. Kesadaran adalah sebuah kondisi dimana seseorang benar-benar mencapai
suatu pemahaman tertentu. Maka, pendidikan selayaknya memberikan pemahaman
bukan hanya tentang keilmuan yang didapatkan, namun juga pemahaman akan kondisi
sekitarnya dengan berdasar pada kelimuan yang telah dipelajarinya.
B. Bentuk Pendidikan sebagai Alat Penyadaran
Dimanapun idealnya proses pendidikan dan
pembelajaran selalu diarahkan untuk membuat peserta didik menjadi orang yang
dapat hidup dengan kualitas yang baik di masa depannya. Untuk mendapatkan
kualitas yang baik tersebut seseorang harus mampu melaksanakan berbagai hal
dalam kehidupan ini dengan baik. Kemampuan melaksanakan berbagai hal dengan
baik dalam kehidupan ini memerlukan kemampuan yang kompleks, sehingga
pendidikan pun harus mampu membelajarkan dan mengajarkan kepada anak tentang
kompleksitas tersebut, yang memberikan kesadaran kepada anak bahwa kehidupannya
nanti memerlukan ketekunan, kerja keras, kecerdasan, ketrampilan, kemampuan
berkompetisi sekaligus bekerjasama, dan berbagai kemampuan lainnya. Untuk itu
anak harus selalu belajar, bukan sekedar untuk memperoleh nilai dalam belajar, tetapi
untuk dapat selalu menyelesaikan tantangan kehidupan yang kompleks tersebut,
untuk dapat memperoleh kehidupan yang baik nantinya.
Kesadaran akan kompleksitas masalah yang akan
dihadapinya di masa depan tersebut penting untuk ditanamkan kepada peserta
didik, sehingga peserta didik kemudian membangun kesadarannya untuk hidup
dengan baik pada masa yang akan datang. Kesadaran tersebut kemudian akan memicu
banyak hal dalam kehidupan peserta didik, karena kesadaran akan mempengaruhi
mindset seseorang, dan mindset akan berpengaruh terhadap banyak hal dalam
kehidupan seseorang termasuk cara berfikir dan berperilaku kesehariannya.
Kesadaran merupakan sikap mental siswa dalam
memandang sesuatu. Melalui sikap mental ini, kemudian seseorang akan
berperilaku sebagaimana sikap mental yang dianutnya. Contoh, seorang peserta
didik yang memiliki kesadaran bahwa belajar diperlukan untuk membuat ilmu dan
kemampuannya bertambah akan sangat berbeda dengan peserta didik yang memiliki
kesadaran bahwa belajar hanya diperlukan untuk mencari nilai di sekolah.
Anak-anak yang memiliki kesadaran bahwa belajar untuk membuat ilmu dan
kemampuannya bertambah akan belajar tanpa harus diperintah atau bahkan harus
ditunggui, anak-anak dengan kesadaran ini juga akan selalu belajar walaupun
saat haru libur sekalipun. Sangat berbeda dengan anak-anak dengan kesadaran
bahwa belajar untuk mendapatkan nilai di sekolah. Anak-anak tersebut akan
belajar jika ada ujian atau tugas saja, kesehariannya belajar akan terasa berat
bagi anak, sehingga harus diperintah dan diawasi, jika sekolah dalam kondisi
libur anak akan enggan untuk belajar, karena memang belajar hanya diperuntukkan
untuk keperluan memperoleh nilai. Dengan demikian kesadaran akan mendorong
motivasi, dan motivasi akan mendorong tercapainya produktifitas, termasuk
kompetensi.
Demikian juga dengan kesadaran-kesadaran yang
lain juga akan sangat berpengaruh terhadap perilaku anak pada masa yang akan
datang sampai dengan dewasa nantinya, apalagi jika dalam perkembangan anak
tersebut pada masa-masa berikutnya tidak pernah memperoleh kesadaran baru,
sehingga kesadarannya tidak berkembang, sehingga cara berfikir dan perilakuknya
pasti akan sama dan juga tidak berubah walaupun secara biologis dan psikologis
anak tersebut tumbuh. Sehingga seringkali terlihat banyak peserta didik pada
level mahasiswa, namun dalam cara berfikirnya dan cara pengambilan keputusannya
masih setara dengan peserta didik level sekolah menengah.
Disinilah pentingnya tugas seorang guru atau
juga orang-orang yang dalam kehidupannya memiliki fungsi sebagai guru, apakah
itu orang tua, dosen, kyai, tokoh masyarakat, bahkan para pemimpin organisasi,
untuk terus berupaya mendidik dan mengajarkan siswa, mahasiswa, santri, masyarakat,
bahkan pengikutnya untuk selalu menumbuhkan kesadaran yang baik. Tentu saja
tugas ini tidak mudah karena kesadaran adalah sesuatu yang tidak nampak dan
sulit untuk diukur secara instan. Kondisi ini berbeda dengan mengajarkan
hal-hal yang berkaitan dengan kompetensi. Pengajaran kompetensi tanpa ada
penanaman kesadaran yang cukup maka kompetensi tersebut akan hanya dihafal
saja. Sedangkan pengembangan komitmen tanpa adanya penanaman kesadaran yang
cukup tidak akan bertahan lama, dan mungkin juga akan dilaksanakan dengan
berpura-pura[8].
III.
PENUTUP
Pendidikan
pada hakikatnya adalah sebuah proses pendewasaan diri dalam bentuk pengembangan
akhlak dan pemikiran melalu proses belajar mengajar. Pendidikan berbeda dengan
pengajaran yang lebih bersifat teknis pembelajaran demi mencapai tujuan
pendidikan itu sendiri.
Hakikat
dari pendidikan seharusnya tidak sekedar bertujuan untuk memberikan ilmu
pengetahuan saja, tetapi lebih dari itu memberikan kesadaran kepada peserta
didik secara khusus dan masyarakat secara umum. Kesadaran merupakan sebuah
kondisi dimana seseorang benar-benar mencapai suatu pemahaman tertentu. Kesadaran
akan mendorong motivasi, dan motivasi akan mendorong tercapainya produktifitas,
termasuk kompetensi.
IV.
DAFTAR PUSTAKA
Bielecki, A., Kokoszka, A., & Holas, P.2000.
Dynamic Systems Theory:
Approach to Consciousness. International Journal
of Neuroscience, vol.104, p. 29-47.
Chalmers,
D.J. 1995a. Facing Up to the Problem of Consciousness. Journal of Consciousness
Studies, 2 (3), p. 200-219. http://www.imprint.co .uk /chalmers.html Diambil tgl. 19 Juni 2005
Dewantara,
Ki Hajar. 1977. Bagian Pertama
Pendidikan. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa
: Yogyakarta.
Hastjartjo,
Dicky. 2005. Sekilas Tentang Kesadaran (Consciousness). Buletin Psikologi, Volume
13, No. 2.
Natsoulas,
T. 1978. Consciousness. American
Psychologist, October, 906-914.
Pawlik,
K. 1998. The Neuropsychology of Consciousness: The Mind-Body Problem Re- addressed. International Journal of Psychology, 33 (3), 185-189.
Richardson,
A. 1999. Subjective Experience: Its Conceptual Status, Method of Investigation, and Psychological
Significance. Journal of Psychology,
133, (5), 649- 483.
Wilber,
K.1997. An Integral Theory of
Consciousness. Journal of Consciousness Studies, 4 (1), pp. 71-92.
Zeman,
A. 2001. Consciousness. Brain, Vol. 124, No. 7, p.1263-1289.
http://kbbi.web.id/didik
http://sugeng.lecturer.uin-malang.ac.id/2015/05/tugas-berat-guru-adalah- menumbuhkan-kesadaran/
http://www.kompasiana.com/wildensyah/perbedaan-mendidik-dan- mengajar_55008c48a333115d6f5115a3
[1] http://kbbi.web.id/didik
[2] Ki Hajar
Dewantara, 1977:14
[3] Chalmers,
1995a
[4] Bielecky
et.al, 2001; Natsoulas, 1978; Pawlik, 1998; Richardson, 1999; Zeman, 2001
[5] Hastjartjo,
2005
[6] Hastjartjo,
2005
[7] http://www.kompasiana.com/wildensyah/perbedaan-mendidik-dan-mengajar_55008c48a333115d6f5115a3
[8] http://sugeng.lecturer.uin-malang.ac.id/2015/05/tugas-berat-guru-adalah-menumbuhkan-kesadaran/
Komentar
Posting Komentar